Di grup chat
Kartu Perpisahan untuk Pak Burhan
"Ada yang sudah kepikiran soal hari Jumat?" tulis Kartika di grup kantor pukul 7.50. Jumat adalah hari terakhir Pak Burhan setelah dua puluh enam tahun di bagian pembukuan, dan sejauh ini satu-satunya rencana adalah tidak ada rencana.
Dalam sejam ia sudah punya rencana itu. Ia meminta Rosa, yang gambarnya indah dan tidak pernah menyinggungnya, untuk merancang kartu. Wahyu yang memilih kado, sebab dialah yang makan siang bersama Pak Burhan dan tahu beliau gemar memperbaiki radio tua. Kepada Lia, pegawai paling baru, yang sejak bergabung belum mengetik sepatah kata pun di grup, ia menulis langsung: "Kamu dulu kerja di toko roti, kan? Mau kasih tahu kami sebaiknya pesan kue apa? Aku lebih percaya seleramu daripada seleraku." Lia menjawab dalam empat menit, dengan tiga pilihan dan catatan soal kacang kenari.
Sisanya jatuh ke Kartika, sebab ia yang menawarkan diri. Mengumpulkan uang. Menagih sembilan orang yang bilang "iya, pasti" lalu tidak membayar. Memesan ruangan, meminjam piring. Kamis malam pukul sebelas ia masih menggunting pita, dan laporannya sendiri untuk hari Senin belum tersentuh di dalam tas.
Hari Jumat berjalan baik. Pak Burhan menggenggam tabung radio temuan Wahyu dan sejenak tidak sanggup bicara. Orang-orang memuji kartu dan kue kenari itu sambil menyebut nama pembuatnya. Pipi Rosa memerah. Lia ditanya, dua kali, di mana ia belajar soal kue, dan masih mengobrol lama sesudah jam ketika biasanya ia sudah menyelinap pulang.
Sesudahnya grup jadi ramai. "Kartunya keren, Rosa!" "Wahyu, kadonya!" "Lia, kuenya!!" Kartika menggulirnya di dalam bus sambil tersenyum, dan terus menggulir sedikit lebih lama daripada perlu. Tidak ada yang berterima kasih kepada orang yang membuat daftarnya. Perihnya lebih dari yang mau ia akui kepada siapa pun, dan ia jengkel pada dirinya sendiri karena menghitung-hitung. Ia mengetik, "Senang banget semuanya jadi," lalu menambahkan baris kedua yang biasanya tidak akan ia kirim: "Jujur, kerjaannya banyak. Lain kali aku pengin ada teman buat ngurus bareng. Ada yang mau?"