Di grup chat
Sepetak Kuning Kunyit
"Abu-abu. Titik. Semua noda ketutup," tulis Niko, dan tiga detik kemudian Puspa menjawab dengan sederet tanda seru dan kata-kata "langkahi dulu mayatku, putih atau nggak sama sekali". Grup penghuni kontrakan itu sudah ramai sejak makan siang. Pemilik rumah mengizinkan mereka mengecat ulang lorong, dan lorong, ternyata, adalah tempat tinggal pendapat semua orang.
Tiara mengikutinya dari dalam bus menuju rumah. Ia sebenarnya punya pendapat. Lorong itu tidak berjendela, dan pada malam hari lampu plafonnya membuat dinding berwarna seperti kertas tua. Abu-abu akan menjadikannya terowongan. Putih akan memperlihatkan setiap bekas ban sepeda sebelum tahun berganti. Yang dibutuhkan lorong itu adalah warna hangat yang tampak disengaja di bawah cahaya lampu: kuning kunyit yang lembut, kuning daging buah mangga yang belum terlalu matang. Ia bisa melihatnya dengan persis. Ia mengetik, "Gimana kalau kuning? Bukan yang terang, lebih kayak" lalu berhenti, sebab tidak ada kata untuk warna itu, dan sebab Niko pasti bilang kuning itu warna dapur.
Ia menghapus pesannya. Aldo memasang jajak pendapat. Abu-abu, dua suara. Putih, satu. Nama keempat bertengger di situ tanpa pilihan, namanya, dan Puspa menulis "Tiara??".
Sesampai di rumah ia tidak menjawab. Ia mengambil kotak di kolong tempat tidurnya yang berisi sisa-sisa tube cat, mencampur oker dan putih dan sedikit cokelat tanah di atas tatakan cangkir, lalu mengecat sepetak seukuran buku di dinding lorong. Yang pertama terlalu hijau. Ia memperbaikinya dan mengecat petak kedua di sebelahnya. Lalu ia menyalakan lampu plafon, mundur sampai ke pintu depan, dan merasakan bahunya turun. Nah, itu dia.
Ia memotret petak itu dengan jaket merah Puspa tergantung di tepinya, sebab warna merah itu separuh dari argumennya, dan mengirimkannya ke grup. Tanpa keterangan. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada yang pantas untuk sepetak cat. Niko yang pertama membalas. "Hm." Lalu Puspa: "Oke, bentar." Tiara menelungkupkan ponsel di rak sepatu dan membilas tatakan cangkir itu, tidak terburu-buru untuk tahu kelanjutannya.